Pemuda, sudah sejatinya memiliki
semangat dalam pergerakkan. Semangat yang amat menggelora hingga akhirnya
Indonesia mampu meraih kemerdekaannya dari masa penjajahan panjangnya. Semangat
yang tak mengenal surut, meski pada zaman dewasa ini banyak hal yang mulai mengikis
kebanggaan pemuda akan semangatnya. Idealismenya mulai dilubangi, langkahnya
mulai terhalang jalan yang semakin berliku dan bebatuan tajam. Namun sekali
lagi, bukan pemuda namanya jika dengan sangat mudah mengibarkan bendera putih
tanpa meneriakkan pekikan kemenangannya, tanpa menitiskan darah terakhirnya.
Pemuda, sejatinya tonggak kokoh yang
dimiliki suatu bangsa. Jika dibentuk dengan baik, maka akan membawa kemajuan
bagi bangsanya. Pembentukan pemuda ini dapat dimulai dengan memberikan perbekalan
berupa pengetahuan dan pembentukan karakter. Langkah ini dilakukan sebagai proses
dasar untuk melahirkan pemuda tangguh yang selalu sigap terhadap segala bentuk
permasalahan bangsa.
Program Pelatihan Kepemimpinan
Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta merupakan salah satu dari sekian banyak
program lainnya di Indonesia yang ditujukan untuk membentuk pemuda berintelektual
yang berkarakter. Dengan didukung beberapa rangkaian kegiatan didalamnya (Pra PKM
UNJ, PKM UNJ 1, 2 dan 3) pelatihan kepemimpinan ini akan mengawali pembentukan
nyata jiwa kepemimpinan yang dimiliki pemuda-pemudi di Universitas Negeri
Jakarta.
Dengan tema “Menjadi Pemuda Yang
Dirindukan Bangsa” Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta
ini diawali dengan rangkaian pertama yang telah berlangusng pada tanggal 17
sampai dengan 19 Juni 2016 yang bertempat di beberapa lokasi kampus UNJ yang
berbeda, yaitu kampus A yang berada di Rawamangun muka, Kampus B yang berada di
dekat Arion, dan kampus E yang ada di Setia budi.
Adapun tujuan dari rangkaian pertama
program pelatihan kepemimpinan ini adalah untuk memberikan materi-materi yang
sangat penting untuk diketahui oleh pesertanya. Materi tersebut yang kemudian
akan di follow up dalam rangkaian acara berikutnya yaitu melakukan beberapa
praktek lapangan dan pengabdian masyarakat sebagai wujud nyata dalam menjadi
pemuda yang dirindukan bangsa. Diantara materi yang disampaikan antara lain
adalah materi Public Relation dan Manajemen Issu yang dibawakan oleh M. Tri Andika
Kurniawan, materi Rekayasa Sosial yang dibawakan oleh Jonru, dan materi Counter
Intelligent yang dibawakan oleh Moses Caesar Assa.
Materi mengenai Public Relation dan Manajemen
Issu membahas tentang perbedaan antara public dan massa, yaitu bahwa public
lebih well educated dan juga sebagai kelompok yang saling berbagai
permasalahan, terlibat berbagai macam diskusi dan melahirkan beberapa solusi
atas permasalahan yang ada. Sementara yang dimaksud dengan massa adalah
kelompok yang pasif dan lebih longgar. Kemudian poin lainnya adalah mengenai
berbagai macam hukum yang ada (devine, opinion, civilian) yang bersumber dari
Johnlock. Diantara berbagai macam hukum tersebut, hukum yang paling dipercaya
adalah public opinion. Hal ini dikarenakan oleh dinamika sosial politik yang
ada pada suatu bangsa sehingga persepsi hadir lebih dahulu dibandingkan dengan
hukum. Diantara elemen opini public adalah sebagai berikut:
Menurut pemateri,
diantara peran beberapa pihak dalam public relation dan manajemen issu ini,
media berperan paling signifikan didalamnya. Hal ini disebabkan oleh a fact of modern society – influencing public
opinion. Kekuatan yang ada pada salah satunya adalah dari sudut
hiperrialitas, dimana media menciptakan suatu kondisi sedemikian rupa sehingga
semakin samar antara kebenaran semu dan kebenaran sesungguhnya.
Dampak dari hiperrialitas
yang diciptakan oleh media adalah diantaranya; inflasi informasi, disinformasi,
depolitisasi, baralitas informasi, dan junk informasi. Dampak lainnya yang
ditimbulkan oleh media adalah menggiring adanya Spiral of silence yang
disebabkan oleh adanya fear of isolation.
Yaitu adalah kelompok yang lebih memilih untuk menyembunyikan pendapatnya
kepada public.
Materi selanjutnya adalah mengenai Rekayasa Sosial yang
membahas tentang upaya yang diciptakan seseorang atau kelompok tertentu untuk
merubah suatu realita yang terjadi ditengah masyarakat pada umumnya. Rekayasa social
bisa dilakukan untuk beberapa tujuan, baik yang positive maupun negative. Untuk
melakukan rekyasa social, dibutuhkan actor pembawa perubahan yaitu agent of
change yang banyak diperankan oleh pemuda. Berikut ini adalah beberapa indicator
agent of change; memiliki power, leadership, morality, mentality, dan values.
Materi counter intelligent membahas
tentang arti dibalik kegiatan counter intteligent itu sendiri, yaitu aktivitas
menghalangi musuh dari mendapatkan informasi yang penting. Suatu kelompok bisa
melakukan proses counter intelligent bila telah sadar akan adanya ancaman yang
ditimbulkan oleh pihak musuh. Kemampuan untuk menyadari akan ancaman tersebut
sebenarnya muncul dari proses mengamati sinyal, kode, atau situasi, merasakan
atau sensing the situation, selecting important codes, baru kemudian
didapatlah sebuah data. Stelah itu data yang ada dimaknai dan diambil
kesimpulannya. Berikut ini adalah satu cara untuk mengetahui cara memaknai
data:
Yang
dimakasudkan dengan gambar diatas juga dibantu dengan proses lainnya yaitu
dengan mengamati emerging issue – trends – sehingga lahirlah sebuah
kesimpulan.
Adapun
hakikat ancaman yang terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia terbagi
dalam tiga kelompok besar yaitu ancaman militer yang dapat berupa konflik
terbuka, hibrida/war, dan non militer yang dapat berupa terorisme, separatism,
wabah penyakit, dan lainnya. Diantara berbagai cara mengatasi ancaman yang
terjadi, jika dikaitkan dengan tugas pemuda sebagai tonggak berdirinya bangsa
adalah dengan melakukan bela negara. Bela negara amatlah penting untuk
ditanamkan pada setiap pemuda Indonesia karena mampu mendorong para pemuda ini
untuk lebih mencintai tanah airnya dan dapat membantu mempertahankan kesatuan
negara.
Farah
Novia/ED/FBS/2012/Kelompok 6
Tidak ada komentar:
Posting Komentar